Terpaksa aku menolak. Maaf
karena kau tak pernah mengerti
rasa sakit ini terlalu berat
Maka beri aku kesempatan untuk mengikisnya
janganlah menyerah
hatiku masih belum pindah
-Sidang Tommy, 27 Juli 2002-
Tampilkan postingan dengan label 2002. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2002. Tampilkan semua postingan
Kamis, Januari 03, 2008
Di Beranda Kita Membisu
Beranda dingin
kita duduk di sudut menampung angin
cuma membisu hilang topik
ada gemerincing lonceng dan dengung nyamuk
aku menatapmu
merekam wajah patung yang kaku
Beranda beku
tiap kau datang selalu begitu
bersama tanya tak terjawab
Adikku lewat
kita menyapa sekedarnya
Beranda sepi
aku bingung menyusun kata
mungkin benar kata Jamrud
soal kursus merangkai kata
untuk kau dan keangkuhan itu
Beranda kosong
tak ada lagi kau di sofa merah itu
kuharap aku tak bosan dengan diammu
tapi Tuhan tak mengabulkanku
Pernah di beranda itu
kita berdua membisu
sekarang hanya ada aku
sambil mengulang kenangan itu
Jakarta, 24 Juli 2002
kita duduk di sudut menampung angin
cuma membisu hilang topik
ada gemerincing lonceng dan dengung nyamuk
aku menatapmu
merekam wajah patung yang kaku
Beranda beku
tiap kau datang selalu begitu
bersama tanya tak terjawab
Adikku lewat
kita menyapa sekedarnya
Beranda sepi
aku bingung menyusun kata
mungkin benar kata Jamrud
soal kursus merangkai kata
untuk kau dan keangkuhan itu
Beranda kosong
tak ada lagi kau di sofa merah itu
kuharap aku tak bosan dengan diammu
tapi Tuhan tak mengabulkanku
Pernah di beranda itu
kita berdua membisu
sekarang hanya ada aku
sambil mengulang kenangan itu
Jakarta, 24 Juli 2002
Selasa, Januari 01, 2008
Rindu II
Matahari termangu
Lupa sisakan sinar untuk senja
Udara hampa
Sunyi tenggelam dalam gemerincing lonceng angin
Wajahmu tersangkut di awan-awan
Udara menebar tanya:
kau dimana?
segeralah datang
Ketika senja mengantar senyap
Cemburu menggantung di udara
Katamu kau cuma hinggap
sekedar untuk terlelap
Tapi tahukah dirimu
Di sini aku menunggu
serasa berabad-abad
-13.08.02-
Rindu
Baru semalam
Sepi mengunci diri
Lalu bulan tertawa dan kirim salam
Angin berbisik-bisik genit
Katanya selamat mimpi
Aku membeku di ujung malam
Sampai aurora melambat tiba
Merah, kuning, jingga
Membuyar mimpi-mimpi
tentang cinta yang compang-camping
Separuh hatiku tertinggal dilipat malam
dibawa pulang kelelawar pengelana yang kelelahan
Tercium wangi tanah menyesap embun
Aduhai, rinduku betapa purba
-06.08-02-
Benci Sendiri
Hari itu kita bertemu
Aku duduk di atas meja,
menatap kau sedang bicara
Sungguh aku tak mengerti
kenapa masih mau mendengar dusta
Radio yang kau putar lagunya sumbang
Benakku bising tanda tanya
Mau apa kita di situ
Saling melempar kesalahan
Menuduh kecurangan
Tak ada habis
Seucap maaf tak berguna
Bagai tiup angin di kisi jendela
Tak bisa membelai luka,
kecewa dan putus cinta
Sungguh aku jadi membenci diri
karena masih mau mendengar dusta
Masih mengangguk mengucap iya
sambil duduk di atas meja
Lemah!
-30.07.02-
The Wall Between Us
Tembok itu berdiri
diantara keangkuhan
Tembok Cina bermil-mil
jauh,
membatasi perasaan
Membagi pengertian
Satu hitam, dua putih
Tak ada abu-abu
Padahal,
aku ingin melintasi paritnya
Memanggil pada angin dan bayang-bayang
Seperti layangan hinggap
di Kota Terlarang
Khayalan beku
Mungkin juga hatiku
-22.04.02-
Fragile Heart
Waktu berhenti
Jarum jam patah di tengah
Ada yang retak
pelan-pelan
Apakah kaca di hati kita?
-22.04.02-
Langganan:
Postingan (Atom)