Sabtu, Oktober 22, 2011

Sajak Desember

Oleh Sapardi Djoko Damono

Kutanggalkan mantel serta topiku yang tua
Ketika daun penanggalan gugur
Lewat tengah malam…

Kemudian kuhitung
Hutang-hutangku pada-Mu…

Mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;
di luar hujan pun masih kudengar…
dari celah-celah jendela…

Ada yang terbaring di kursi… letih sekali…

Masih patutkah kuhitung segala milikku…
Selembar celana dan selembar baju…
Ketika kusebut berulang nama-Mu;

taram temaram bayang, bianglala itu…


-1961-

pict from here


11 komentar:

Gloria Putri mengatakan...

ihhh, puisinya bagussss :)

Fatulrachman mengatakan...

waw...
1961. puisi antik. nice one...

ruang imaginer mengatakan...

hati yang tertulis dan hidup tanpa kematian

Enno mengatakan...

@glo: puisinya pak SDD gak ada yg gak bagus :)

@fatulrachman: iya antik ya, tapi tetap cocok di segala zaman :)

@ruang imaginer: kematian itu pasti :)

Try Afriarina H mengatakan...

heyyyy halloooo... aku juga suka sdd lohh... bagusss
punya om goen jugaa... :)

Enno mengatakan...

oya? toss dlu kitaaa :)

Try Afriarina H mengatakan...

Suka puisi om sitok srengenge gak?
Oh yaw, aku py impian ktm rendra sayang blm sempet kenal udah ga ada.

Enno mengatakan...

suka juga... puisinya sitok bagus2 :)

aku udah pernah ketemu om willy dulu :)
Indonesia kehilangan penyair sebesar dia, aku jg sedih...

Try Afriarina H mengatakan...

Beruntung ya km bs ktm rendra, ugghh
Aku kenal om sitok dulu br suka ma puisinya. Ada penyair lain fav'mu? Ato penyair smg?

Enno mengatakan...

penyair yg ada di blog ini semua penyair favoritku hehe...

replika angan - angan mengatakan...

bagus-bagus puisinya...

mbak enno salam kenal ya:)