Rabu, Juli 06, 2011

Wislawa

Oleh Oka Rusmini


Kukenal perempuan tua dengan senyum pahit dan rambut blonde kering.

Dia hidup dengan dua laki-laki yang disimpan dalam ketiak penuh parfum.

Dia pandai merajut huruf dengan keliaran yang dipahatkan di sudut bumi.

Bau tanah, bau otak, dan rasa lapar wujud perempuannya muncrat. Dia bicara dengan segaris senyum pahit, tak terbaca. orang-orang merasa menyentuhnya (mungkin: melumat).

Aku sering memandang matanya. Sebuah anak sungai kecil, yang membunuh aliran darah laut.

Kukenal perempuan tua dengan bunga rumput di dada tipisnya. Tersenyum dengan mata sipit mengajakku bertaruh. Dia maui wujudku. Rasa lapar dan segenggam kegilaan.

”Cangkul otakmu. Kusemaikan bibit bunga rumput di setiap helai rambutmu. Perkawinan? Sebuah permainan penuh busa bir. Teguk, pecahkan buihnya. Jangan sentuh tubuhnya, tidurkan dia di kakimu. Aku pandai merajut helai kehidupan, diambang usiaku: kutelan masa kanak- kanakku. Para lelaki, kulecut di dada sambil meminang cairn dengan darah. Memisahkan tubuhku. Hanya tiga detik. Kau ikut? Berpesta sambil merajam tubuh.”

Kukenal perempuan tua dengan garis pucat di dahi. sering sekali dia datang, membakar daging, meremas tulang, jantung. Pelan-pelan: kumuntahkan anak-anak.

Oase, 1999

Minggu, Juni 05, 2011

Dalam Doaku

Oleh Sapardi Djoko Damono



Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara…

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana…

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu…

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku…

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku…

Aku mencintaimu…
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu…



-Kumpulan Sajak "Hujan Bulan Juni", 1989-

Pada Suatu Pagi Hari

Oleh Sapardi Djoko Damono



Maka pada suatu pagi hari

ia ingin sekali menangis

sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu…

Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik

dan lorong sepi…

agar ia bisa berjalan sendiri saja

sambil menangis dan tak ada orang bertanya

kenapa…

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk

memecahkan cermin membakar tempat tidur…

Ia hanya ingin menangis lirih saja

sambil berjalan sendiri

dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.


-1973-

Sabtu, April 02, 2011

Di Restoran

oleh Sapardi Djoko Damono

Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
ilalang panjang dan bunga rumput --
kau entah memesan apa. Aku memesan
batu di tengah sungai terjal yang deras --

kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
memesan rasa lapar yang asing itu.


AT THE RESTAURANT

It was just the two of us, sitting. I ordered
waving grasses and wild flowers --
I don't know what you ordered. I ordered
stones on a bed of swirling rapids --

I don't know what you ordered. But it was just the two of us,
sitting. I ordered
pitiless and piercing pain
then ordered, as well, that alien hunger

[1989]

Hujan, Jalak dan Daun Jambu

Oleh Sapardi Djoko Damono

Hujan turun semalaman. Paginya jalak berkicau dan daun jambu bersemi;
Mereka tidak mengenal gurindam dan peribahasa, tapi menghayati adat kita yang purba
Tahu kapan harus berbuat sesuatu, agar kita manusia, merasa bahagia.
Mereka tidak pernah bisa menguraikan hakikat kata-kata mutiara,
Tapi tahu kapan harus berbuat sesuatu, agar kita merasa tidak sepenuhnya sia-sia

Sajak Desember

Oleh Sapardi Djoko Damono

kutanggalkan mantel serta topiku yang tua
ketika daun penanggalan gugur
lewat tengah malam. kemudian kuhitung
hutang-hutangku pada-Mu

mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;
di luar hujan pun masih kudengar
dari celah-celah jendela. ada yang terbaring
di kursi letih sekali

masih patutkah kuhitung segala milikku
selembar celana dan selembar baju
ketika kusebut berulang nama-Mu; taram
temaram bayang, bianglala itu

1961

Batu

oleh Sutardji Calzoum Bachri

batu mawar
batu langit
batu duka
batu rindu
batu jarum
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati janji?

Dengan seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan
hati tak jatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan seribu
beringin ingin tak teduh. Dengan siapa aku mengeluh?
Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampai mengapa
gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa peluk
diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai sedang
lambai tak sampai. Kau tahu?

batu risau
batu pukau
batu Kau-ku
batu sepi
batu ngilu
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati
janji?