by Faaizi L. Kaelan
Tak kuasa lagi kutanggung gelisah
Meski rindu tetap membiru
Aku mengungsi darimu
Pada awal cahaya semburat fajar
Engkau menjadi titik bias matahari
Kesadaran penghujung mimpi
Sebab silau aku menjauh ke gelap malam
Namun engkau pun rembulan
Menyelimutiku dalam geletar
Menembus hari aku berlari
Meninggalkanmu dalam segala gemerlap
Aku menghilang dalam halimun sunyi
Tetapi engkau menjelma sepi
Aku mengungsi darimu
Memasuki gua demi gua, aku bertapa
Membentang sayap ke alam moksa
Aku samadi, tapi engkau pula tercipta
-3/1996-
Tampilkan postingan dengan label Faizi L. Kaelan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Faizi L. Kaelan. Tampilkan semua postingan
Kamis, Januari 03, 2008
Interval Kematian
by Faaizi L. Kaelan
Antara sinar mata dan benda berkabut
di hadapan kita terbujur garis lini
sebuah interval episode melodrama;
sungai yang terus mengalir ke jantungmu
tak henti, tak jua akan berakhir
dimana epilognya kupotong
sebagai misa bunga-bunga musim gugur
Sepanjang garis jalan hidup
aku teteskan igauan giris seorang pengemis
mengiba kasihmu; hujan deras sore hari
damailah engkau dalam pusara beku berlumut
Lalu, kusentuh keningmu dengan getar bibirku
menyebut namamu berulang kali
meresap dalam tanah kering berkapur
aku pun tengadah dan berlutut
menyiram kuburmu dengan derai tangis
: sebuah upacara tua yang kupercaya
1996
Antara sinar mata dan benda berkabut
di hadapan kita terbujur garis lini
sebuah interval episode melodrama;
sungai yang terus mengalir ke jantungmu
tak henti, tak jua akan berakhir
dimana epilognya kupotong
sebagai misa bunga-bunga musim gugur
Sepanjang garis jalan hidup
aku teteskan igauan giris seorang pengemis
mengiba kasihmu; hujan deras sore hari
damailah engkau dalam pusara beku berlumut
Lalu, kusentuh keningmu dengan getar bibirku
menyebut namamu berulang kali
meresap dalam tanah kering berkapur
aku pun tengadah dan berlutut
menyiram kuburmu dengan derai tangis
: sebuah upacara tua yang kupercaya
1996
Langganan:
Postingan (Atom)