Selasa, September 07, 2010

Don't Go Far Off, Not Even for A Day

pict by Violet

by Pablo Neruda

Don't go far off, not even for a day, because --
because -- I don't know how to say it: a day is long
and I will be waiting for you, as in an empty station
when the trains are parked off somewhere else, asleep.

Don't leave me, even for an hour, because
then the little drops of anguish will all run together,
the smoke that roams looking for a home will drift
into me, choking my lost heart.

Oh, may your silhouette never dissolve on the beach;
may your eyelids never flutter into the empty distance.
Don't leave me for a second, my dearest,

because in that moment you'll have gone so far
I'll wander mazily over all the earth, asking,
Will you come back? Will you leave me here, dying?

Senin, Agustus 30, 2010

Dua Peristiwa dalam Satu Sajak Dua Bagian


oleh Sapardi Djoko Damono


1
sehabis langkah-langkah kaki: hening
siapa?
barangkali si pesuruh yang tersesat dan gagal menemukan tempat tinggalmu padahal sejak

semula sudah diikutinya jejakmu
padahal harus lekas-lekas disampaikannya pesan itu padamu

2
seolah-olah kau harus segera mengucapkan sederet kata
yang pernah kaukenal artinya,
yang membuatmu terkenang akan batang randu alas tua
yang suka menjeritjerit kalau sarat berbunga

Kamis, Agustus 05, 2010

Your Feet


by Pablo Neruda

When I cannot look at your face
I look at your feet.
Your feet of arched bone,
your hard little feet.
I know that they support you,
and that your sweet weight
rises upon them.
Your waist and your breasts,
the doubled purple
of your nipples,
the sockets of your eyes
that have just flown away,
your wide fruit mouth,
your red tresses,
my little tower.
But I love your feet
only because they walked
upon the earth and upon
the wind and upon the waters,
until they found me.

Rabu, April 14, 2010

Dalam Doaku


Oleh Sapardi Djoko Damono

"Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata,
yang meluas bening siap menerima cahaya pertama,
yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa,
yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini,
kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin
yang turun sangat perlahan dari nun di sana,
bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi
dan bibirnya di rambut, dahi dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya,
yang setia mengusut rahasia demi rahasia,
yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

Aku mencintaimu,
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu

Senin, April 05, 2010

A Lover's Call XXVII


by Kahlil Gibran

Where are you, my beloved? Are you in that little
Paradise, watering the flowers who look upon you
As infants look upon the breast of their mothers?

Or are you in your chamber where the shrine of
Virtue has been placed in your honor, and upon
Which you offer my heart and soul as sacrifice?

Or amongst the books, seeking human knowledge,
While you are replete with heavenly wisdom?

Oh companion of my soul, where are you? Are you
Praying in the temple? Or calling Nature in the
Field, haven of your dreams?

Are you in the huts of the poor, consoling the
Broken-hearted with the sweetness of your soul, and
Filling their hands with your bounty?

You are God's spirit everywhere;
You are stronger than the ages.

Do you have memory of the day we met, when the halo of
You spirit surrounded us, and the Angels of Love
Floated about, singing the praise of the soul's deed?

Do you recollect our sitting in the shade of the
Branches, sheltering ourselves from Humanity, as the ribs
Protect the divine secret of the heart from injury?

Remember you the trails and forest we walked, with hands
Joined, and our heads leaning against each other, as if
We were hiding ourselves within ourselves?

Recall you the hour I bade you farewell,
And the Maritime kiss you placed on my lips?
That kiss taught me that joining of lips in Love
Reveals heavenly secrets which the tongue cannot utter!

That kiss was introduction to a great sigh,
Like the Almighty's breath that turned earth into man.

That sigh led my way into the spiritual world,
Announcing the glory of my soul; and there
It shall perpetuate until again we meet.

I remember when you kissed me and kissed me,
With tears coursing your cheeks, and you said,
"Earthly bodies must often separate for earthly purpose,
And must live apart impelled by worldly intent.

"But the spirit remains joined safely in the hands of
Love, until death arrives and takes joined souls to God.

"Go, my beloved; Love has chosen you her delegate;
Over her, for she is Beauty who offers to her follower
The cup of the sweetness of life.
As for my own empty arms, your love shall remain my
Comforting groom; you memory, my Eternal wedding."

Where are you now, my other self? Are you awake in
The silence of the night? Let the clean breeze convey
To you my heart's every beat and affection.

Are you fondling my face in your memory? That image
Is no longer my own, for Sorrow has dropped his
Shadow on my happy countenance of the past.

Sobs have withered my eyes which reflected your beauty
And dried my lips which you sweetened with kisses.

Where are you, my beloved? Do you hear my weeping
From beyond the ocean? Do you understand my need?
Do you know the greatness of my patience?

Is there any spirit in the air capable of conveying
To you the breath of this dying youth? Is there any
Secret communication between angels that will carry to
You my complaint?

Where are you, my beautiful star? The obscurity of life
Has cast me upon its bosom; sorrow has conquered me.

Sail your smile into the air; it will reach and enliven me!
Breathe your fragrance into the air; it will sustain me!

Where are you, me beloved?
Oh, how great is Love!
And how little am I!

Selasa, Oktober 27, 2009

Sebilah Pisau Dapur yang Kau Beli... dst

Sebilah Pisau Dapur yang Kaubeli dari Penjaja
yang Setidaknya Seminggu Sekali Muncul
Berkeliling di Kompleks, yang Selalu Berjalan
Menunduk dan Hanya Sesekali Menawarkan
Dagangannya dengan Suara yang Kadang
Terdengar Kadang Tidak, yang Kalau Ditanya
Berapa Harganya Pasti Dikatakannya,
“Terserah Situ Saja…”

Oleh Sapardi Djoko Damono


/1/
takdir pun dimulai
di pintu pagar
sehabis kaubayar
kita perlu sebilah
pengganti si patah
kau telah memilih pisau
berasal dari rantau
matanya yang redup
tiba-tiba hidup

/2/
bahasanya tak kaukenal
tentu saja
tapi dengan cermat
dipelajarinya bahasamu
yang berurusan
dengan mengiris
dan menyayat
yang tak lepas dari tata cara
meletakkan sayur berjajar
di talenan untuk dirajang
sebelum dimasukkan
ke panci yang mendidih airnya
dan dengan cepat
dikuasainya bahasamu
yang memiliki kosa kata lengkap
untuk mengurus bangkai ayam
membersihkan usus
memotong-motongnya
dan merajang hatinya

/3/
ia tulus dan ikhlas belajar
menerima kehadirannya
di antara barang-barang
yang telungkup
yang telentang
yang bergelantungan
yang kotor
yang retak
yang bau sabun
yang berminyak
di seantero dapur

/4/
segumpal daging merah
sedikit darah
di meja dapur
di sebelah cabe
berhimpit dengan bawang
yang menyebabkan
matanya berlinang
teringat akan mangga
yang tempo hari dikupasnya
teringat akan apel
yang kemarin dibelahnya
di meja makan

/5/
kau sangat hati-hati
memperlakukannya
waswas akan tatapannya
sangat sopan menghadapinya
meski kau yakin
seyakin-yakinnya
ia bukan keris pusaka
kau sangat hati-hati
setiap kali menaruhnya
di pinggir tempat cuci piring
takut melukai matanya

/6/
kau merasa punya tugas
untuk teratur mengasahnya
dinantinya saat-saat
yang selalu menimbulkan
rasa bahagia itu
inderanya jadi lebih jernih
jadi lebih awas
jadi lebih tegas
memilah yang manis
dari yang pedas
meraba yang lunak
di antara yang keras

/7/
apa gerangan yang dibisikkannya
kepada batu pengasah itu

/8/
ia suka berkejap-kejap
padaku, kata cucumu
kau buru-buru menyeretnya
menjauh dari dapur
yang tiba-tiba terasa gerah

/9/
ia kenal hanya selarik doa
yang selalu kauucapkan
sebelum memotong ikan
yang masih berkelejotan
kalau tanganmu gemetar
memegang tangkainya
ia pejamkan mata
mengucapkan doa

/10/
kenangannya pada api
yang dulu melahirkannya
menyusut ketika tatapannya
semakin tajam
oleh batu asah
kenangannya pada landasan
dan palu yang dulu menempanya
kenangannya pada jari-jari kasar
yang pertama kali mengelusnya
kenangannya
pada kata pertama
si pandai besi
ketika lelaki itu
melemparkannya ke air
yang mengeluarkan suara aneh
begitu tubuhnya
yang masih membara
tenggelam dan mendingin
kenangannya pada benda-benda
yang telah melahirkannya
semakin redup
ketika saat ini ia merasa
sepenuhnya tajam
seutuhnya hidup

/11/
dua sisi matanya
tak pernah terpejam
sebelah menatapmu
sebelah berkedip padaku
jangan pernah tanyakan
makna tatapan
yang melepaskan isyarat
seperti bintik-bintik cahaya
yang timbul-tenggelam
di sela-sela gema
di sela-sela larik-larik
Kitab yang menjanjikan
sorga bagi kita

/12/
ujungnya menunjuk ke Sana?
diam-diam terucap
pertanyaanmu itu
menjelang subuh
:
matanya tampak berlinang
dari sudut-sudutnya muncul
gelembung-gelembung darah
satu demi satu pecah
:
satu demi satu pecah
:
satu demi satu pecah
:
lantunan azan

............

Catatan: Judul puisi ini adalah alinea yang ditebalkan.

Kamis, September 03, 2009

Asmaradana

Oleh Goenawan Mohamad


Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang
jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib,
perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan
mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani
lagi.

Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.