Rabu, Juli 01, 2009

Membebaskan Hujan


Oleh Sapardi Djoko Damono

ada yang ingin menjaring hujan
dengan pepatah-petitih tua
yang tak lekang meski basah -
hujan buru-buru menghapusnya

ada yang ingin mengurung hujan
dalam sebuah alinea panjang
yang tak kacau meski kuyup -
hujan malah sibuk menyuntingnya

ada yang ingin membebaskan hujan
dengan telapak tangan
yang jari-jarinya bergerak gemas -
hujan pun tersirap: air mata

Kamis, Juni 18, 2009

Ia Berharap Kau Mengingatnya

Ia berharap kau mengingatnya
Sebagai ketidakjujuran yang kau sembunyikan.
Kau tahu ia ingin menonton film itu. Film yang dibintangi Nicolas Cage.
Dan kau bilang padanya, kau tidak ada waktu. Selalu pulang malam.
Lalu ia menemukan di halaman pribadimu, petunjuk bahwa kau ternyata telah menontonnya.
Pasti dengan seseorang.

Kau tak lagi bersedia menjumpainya di malam-malam yang lebih awal.
Ia ingat ketika kau datang lewat jam sembilan malam.
Ketika ia bertanya maka kau bercerita tentang lembur dan boss yang tidak masuk kerja. Tetapi kau tak menyadari ia menghitung jarak dan waktu perjalanan.
Seberapa jauhkah kantormu dengan rumahnya?
Tiga jam perjalanan terlalu berlebihan, kecuali kau telah mengantar dulu seseorang.

Mungkin bagimu helm yang tersangkut di stang sepeda motormu bukan petunjuk tentang sesuatu yang kau sembunyikan.
Tapi ia mendengar helm itu bicara dalam bahasanya yang bisu. Ia baru saja dipakai seseorang.Yang kamu jemput dan antar pulang.

Dan seberapa jujurnya kau ketika ia mendesakmu untuk menjawab?
Apakah kau dan perempuan itu sudah putus? Tanyanya.
Kau bilang sudah. Tetapi kau masih memanggil perempuan itu ‘kekasihku’.
Kau harus jujur, tuntutnya. Apakah kalian sudah putus? Tadi kau masih memanggilnya sebagai kekasihmu.
Kau malah balik bertanya: lalu?

Maka perempuan itu menjawab, bahwa ia punya prinsip.
Aku tidak mau jalan dengan kekasih orang. Begitu katanya.
Dan kau bersikeras menjawab perempuan itu bukan lagi kekasihmu. Kalian hanya masih saling peduli.

Ah, setiap orang paling bodoh pun akhirnya tahu. Kau memang hanya peduli pada perempuan itu. Diam-diam masih bertemu dengan perempuan itu.
Tak ada yang berubah. Kalian masih sepasang kekasih.

Ia menelan setiap potong ketidakjujuranmu dengan harapan yang sia-sia.
Berharap suatu hari kau menyadari hatinya yang tulus siap memaafkan.
Tetapi kau semakin menjauh, kembali menekuni dunia semu dengan perempuan itu.
Kau tidak merasa bersalah. Kau menulis setiap potong perasaanmu pada perempuan itu di setiap halaman pribadi.
Setiap lembar fotomu tentang momen-momen terbaru bersama perempuan itu.
Meski sepantasnya kau tahu ada yang akan menyimaknya dengan sedih.

Ia berharap kau mengingatnya.
Sebagai ketidakjujuran yang kau sembunyikan.
Ketika kau mencoba untuk menjadikan dirinya obat untuk berpaling.
Lalu meninggalkannya begitu saja.
Ketika kau merasa tantangannya sudah tak ada.

2009

Den Haag


Oleh Oka Rusmini

Di Novotel Den Haag, aku dikunyah sunyi. Bayangmu merobek mataku. Aku tak bisa memejamkan mata. Kau terus datang. Apa kau ingin membunuh tubuhku? Tak inginkah kau diamkan aku nikmat menyeruput kopi panas, teh hangat dan sepotong croissant? Atau sesekali duduk di lobi sambil menikmati para lelaki berkulit keju mendengarkan musik, bersantai, sambil berkencan dengan kekasihnya atau istri temannya?

Di Novotel Den Haag, aku hanya punya waktu 14 hari. Tanpa suaramu dan rengekanmu memanggil namaku penuh rindu, menggigit seluruh perjalanan hidupku. Aku sering nyeri dan ngeri mengingatmu. Jadi apa kau kelak? Cukupkah aku menyusui dan memberimu bekal perjalanan hidupku? Rasa lapar dan kesunyian sering mengejar dan menelanku dengan lahap. Aku sering takut memandangmu. Beranikah lelakiku memilihkan jalanmu?

Di Novotel Den Haag, wajahmu tetap tak mau pergi. Aku lapar lelakiku. Aku ingin kau hilang dari otak dan tubuhku. Maukah kau pergi sejenak saja? Beri aku 14 hari saja untuk sendiri menjadi perempuan. Melupakan nyeri di perut yang teriris berpuluh-puluh pisau. Melupakan rengekanmu, botol susu, pampers, menu pagi-siang-soremu, juga bau pesing pantatmu yang gembul dan seksi.

Di Novotel Den Haag, aku ingin sendiri. Membunuh semua perjalanan waktu yang kupinjam pada hidup. Tapi kau tetap bandel dan tak mau pergi!

2003

Rabu, Juni 17, 2009

Bayangkan Seandainya


Oleh Sapardi Djoko Damono

Bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini bukan wajahmu tetapi burung yang terbang di langit yang sedikit berawan, yang menabur-naburkan angin di sela bulu- bulunya;

bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini bukan wajahmu tetapi awan yang menyaksikan burung itu menukik ke atas kota kita dan mengibas-ibaskan asap pabrik dari bulu-bulunya;

bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini bukan wajahmu tetapi pohon rambutan di halaman rumahmu yang menggoda burung itu untuk hinggap di lengannya;

bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini wajahmu sendiri yang itu juga, yang tak kunjung habis meski telah kaukupas dengan ganas selembar demi selembar setiap hari.

Minggu, Juni 07, 2009

Kuhentikan Hujan


Oleh Sapardi Djoko Damono

Kuhentikan hujan. Kini matahari
merindukanku, mengangkat kabut pagi perlahan -
ada yang berdenyut
dalam diriku:
menembus tanah basah,
dendam yang dihamilkan hujan
dan cahaya matahari

Tak bisa kutolak matahari
memaksaku menciptakan bunga-bunga.

(1980)

Jumat, Mei 22, 2009

Kolam di Pekarangan


oleh Sapardi Djoko Damono


/1/

Daun yang membusuk di dasar kolam itu masih juga tengadah ke ranting pohon jeruk yang dulu melahirkannya. Ia ingin sekali bisa merindukannya. Tak akan dilupakannya hari itu menjelang subuh hujan terbawa angin memutarnya pelahan, melepasnya dari ranting yang dibebani begitu banyak daun yang terus-menerus berusaha untuk tidak bergoyang. Ia tak sempat lagi menyaksikan matahari yang senantiasa hilang-tampak di sela-sela rimbunan yang kalau siang diharapkan lumut yang membungkus batu-batu dan menempel di dinding kolam itu. Ada sesuatu yang dirasakannya hilang di hari pertama ia terbaring di kolam itu, ada lembab angin yang tidak akan bisa dirasakannya lagi di dalam kepungan air yang berjanji akan membusukkannya segera setelah zat yang dikandungnya meresap ke pori-porinya. Ada gigil matahari yang tidak akan bisa dihayatinya lagi yang berkas-berkas sinarnya suka menyentuh-nyentuhkan hangatnya pada ranting yang hanya berbisik jika angin lewat tanpa mengatakan apa-apa. Zat itu bukan angin. Zat itu bukan cahaya matahari. Zat itu menyebabkannya menyerah saja pada air yang tak pernah bisa berhenti bergerak karena ikan-ikan yang di kolam itu diperingatkan entah oleh Siapa dulu ketika waktu masih sangat purba untuk tidak pernah tidur. Ia pun bergoyang ke sana ke mari di atas hamparan batu kerikil yang mengalasi kolam itu. Tak pernah terbayangkan olehnya bertanya kepada batu kerikil mengapa kamu selalu memejamkan mata. Ia berharap bisa mengenal satu demi satu kerikil itu sebelum sepenuhnya membusuk dan menjadi satu dengan air seperti daun-daun lain yang lebih dahulu jatuh ke kolam itu. Ia tidak suka membayangkan daun lain yang kebetulan jatuh di kaki pohon itu, membusuk dan menjadi pupuk, kalau kebetulan luput dari sapu si tukang kebun.

*

Ia ingin sekali bisa merindukan ranting pohon jeruk itu.

*

Ingin sekali bisa merindukan dirinya sebagai kuncup.

/2/

Ikan tidak pernah merasa terganggu setiap kali ada daun jatuh ke kolam, ia memahami bahwa air kolam tidak berhak mengeluh tentang apa saja yang jatuh di dalamnya. Air kolam, dunianya itu. Ia merasa bahagia ada sebatang pohon jeruk yang tumbuh di pinggir kolam itu yang rimbunannya selalu ditafsirkannya sebagai anugerah karena melindunginya dari matahari yang wataknya sulit ditebak. Ia senang bisa bergerak mengelilingi kolam itu sambil sesekali menyambar lumut yang terjurai kalau beberapa hari lamanya si empunya rumah lupa menebarkan makanan. Mungkin karena tidak bisa berbuat lain, mungkin karena tidak akan pernah bisa memahami betapa menggetarkannya melawan arus sungai atau terjun dari ketinggian, mungkin karena tidak pernah merasakan godaan umpan yang dikaitkan di ujung pancing. Ia tahu ada daun jatuh, ia tahu daun itu akan membusuk dan bersenyawa dengan dunia yang membebaskannya bergerak ke sana ke mari, ia tahu bahwa daun itu tidak akan bisa bergerak kecuali kalau air digoyang-goyangnya. Tidak pernah dikatakannya Jangan ikut bergerak tinggal saja di pojok kolam itu sampai zat entah apa itu membusukkanmu. Ikan tidak pernah percaya bahwa kolam itu dibuat khusus untuk dirinya oleh sebab itu apa pun bisa saja berada di situ dan bergoyang-goyang seirama dengan gerak air yang disibakkannya yang tak pernah peduli ia meluncur ke mana pun. Air tidak punya pintu.

*

Kadangkala ia merasa telah melewati pintu demi pintu.

*

Merasa lega telah meninggalkan suatu tempat dan tidak hanya tetap berada di situ.

/3/

Air kolam adalah jendela yang suka menengadah menunggu kalau-kalau matahari berkelebat lewat di sela rimbunan dan dengan cerdik menembusnya karena lumut merindukannya. Air tanpa lumut? Air, matahari, lumut. Ia tahu bahwa dirinya mengandung zat yang membusukkan daun dan menumbuhkan lumut, ia juga tahu bahwa langit tempat matahari berputar itu berada jauh di luar luar luar sana, ia bahkan tahu bahwa dongeng tentang daun, ikan, dan lumut yang pernah berziarah ke jauh sana itu tak lain siratan dari rasa gamang dan kawatir akan kesia-siaan tempat yang dihuninya. Langit tak pernah firdaus baginya. Dulu langit suka bercermin padanya tetapi sekarang terhalang rimbunan pohon jeruk di pinggirnya yang semakin rapat daunnya karena matahari dan hujan tak putus-putus bergantian menyayanginya. Ia harus merawat daun yang karena tak kuat lagi bertahan lepas dari tangkainya hari itu sebelum subuh tiba. Ia harus merawatnya sampai benar-benar busuk, terurai, dan tak bisa lagi dikenali terpisah darinya. Ia pun harus habis-habisan menyayangi ikan itu agar bisa terus-menerus meluncur dan menggoyangnya. Air baru sebenar-benar air kalau ada yang terasa meluncur, kalau ada yang menggoyangnya, kalau ada yang berterima kasih karena bisa bernapas di dalamnya. Ia sama sekali tak suka bertanya siapa gerangan yang telah mempertemukan kalian di sini. Ia tak peduli lagi apakah berasal dari awan di langit yang kadang tampak bagai burung kadang bagai gugus kapas kadang bagai langit-langit kelam kelabu. Tak peduli lagi apakah berasal dari sumber jauh dalam tanah yang dulu pernah dibayangkannya kadang bagai silangan garis-garis lurus, kadang bagai kelokan tak beraturan, kadang bagai labirin.

*

Ia kini dunia.

*

Tanpa ibarat.

Jumat, Maret 20, 2009

Cintaku Jauh di Pulau


oleh Chairil Anwar

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946